Dalam hening tercipta—aku ingin ucapkan terimakasih kepada seluruh yang ada dan pernah ada, orang tua, keluarga, dan teman teman yang kerap kali berjumpa lalu pergi meninggalkan cerita ataupun dia yang mewarnai hati baik pada saat jatuh cinta maupun terluka karna patah hati semata. Aku menyadari dari setiap kejadian, bukanlah hanya sebuah kebetulan semata, melainkan takdir yang memeluk setiap kehidupan, dari lubuk hati yang dalam, aku ingin ucapkan terima kasih telah mengajari untuk tetap hidup dan tumbuh; untuk tetap rapuh; jatuh dan kembali bangkit menyeluruh, aku sadar dalam hidup singgah dan pergi adalah suatu kemestian bahkan siklus hidup yang tak mungkin terlewatkan atau bahkan tertinggal. Aku sadar apa yang aku inginkan tak semestinya tercapai; sebab manusia hidup hanya sebatas kebutuhan dan kecukupan. Dan aku pula sadar apa yang menjadi milik kita—tak akan mungkin hilang dan tenggelam. Dan dari kalian aku belajar; hidup adalah suatu kemestian berdiri dikaki sendiri. Terimakasih.
Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...

Komentar
Posting Komentar