Dalam hening tercipta—aku ingin ucapkan terimakasih kepada seluruh yang ada dan pernah ada, orang tua, keluarga, dan teman teman yang kerap kali berjumpa lalu pergi meninggalkan cerita ataupun dia yang mewarnai hati baik pada saat jatuh cinta maupun terluka karna patah hati semata. Aku menyadari dari setiap kejadian, bukanlah hanya sebuah kebetulan semata, melainkan takdir yang memeluk setiap kehidupan, dari lubuk hati yang dalam, aku ingin ucapkan terima kasih telah mengajari untuk tetap hidup dan tumbuh; untuk tetap rapuh; jatuh dan kembali bangkit menyeluruh, aku sadar dalam hidup singgah dan pergi adalah suatu kemestian bahkan siklus hidup yang tak mungkin terlewatkan atau bahkan tertinggal. Aku sadar apa yang aku inginkan tak semestinya tercapai; sebab manusia hidup hanya sebatas kebutuhan dan kecukupan. Dan aku pula sadar apa yang menjadi milik kita—tak akan mungkin hilang dan tenggelam. Dan dari kalian aku belajar; hidup adalah suatu kemestian berdiri dikaki sendiri. Terimakasih.
Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural. Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...

Komentar
Posting Komentar