Berjuta-juta jarak kutempuh; hidup takkan menyeluruh—metafor bagi seorang pendaki adalah perjalanan; jurangpun terjang; badaipun tak menjadi alasan—hanya ada perjalanan dan perjalanan—nyawa dan kematian. Lagi pula senja siap menjadi sandaran—aroma kopi dipersimpangan malam. Senja, kopi dan alam adalah kenikmatan; bukan?— lantas kenpa tak di cumbu; barangkali lupa atau hanya sekedar malu! Hidup? Barangsiapa hanya tahu masa depan; ia terbebankan pada masa lampau—Barangsiapa hanya tahu masa lampau; ia terbebankan pada masa depan. Ah—hidup? ada-ada saja.
Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...
Komentar
Posting Komentar