Berjuta-juta jarak kutempuh; hidup takkan menyeluruh—metafor bagi seorang pendaki adalah perjalanan; jurangpun terjang; badaipun tak menjadi alasan—hanya ada perjalanan dan perjalanan—nyawa dan kematian. Lagi pula senja siap menjadi sandaran—aroma kopi dipersimpangan malam. Senja, kopi dan alam adalah kenikmatan; bukan?— lantas kenpa tak di cumbu; barangkali lupa atau hanya sekedar malu! Hidup? Barangsiapa hanya tahu masa depan; ia terbebankan pada masa lampau—Barangsiapa hanya tahu masa lampau; ia terbebankan pada masa depan. Ah—hidup? ada-ada saja.
Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural. Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...
Komentar
Posting Komentar