Berjuta-juta jarak kutempuh; hidup takkan menyeluruh—metafor bagi seorang pendaki adalah perjalanan; jurangpun terjang; badaipun tak menjadi alasan—hanya ada perjalanan dan perjalanan—nyawa dan kematian. Lagi pula senja siap menjadi sandaran—aroma kopi dipersimpangan malam. Senja, kopi dan alam adalah kenikmatan; bukan?— lantas kenpa tak di cumbu; barangkali lupa atau hanya sekedar malu! Hidup? Barangsiapa hanya tahu masa depan; ia terbebankan pada masa lampau—Barangsiapa hanya tahu masa lampau; ia terbebankan pada masa depan. Ah—hidup? ada-ada saja.
Langit tak pernah tanggal dari sepasang mata dan kesedihan Hujan dan awan kisah jernih tunas hijau bagi burung bersarang Kau gagal mematahkan hati seorang petualang dan gudang pertanyaan Sunyi menjadi pohon rimbun tempat langkah mencari arah Jangan percaya pada sebuah kehilangan—sebelum kau menyelam kepada kenyataan . Segala yang tiada, sinar cahaya menjadi gelap gemerlap melebur kenyataan Menjadi sungai deras di alam kepala. Seperti seorang wartawan yang memburu kasus besar Berharap dapat mengungkapkan bagi kemanfaatan keingin tahuan orang-orang Lagi, dada menjadi laut saat segala gelap dikatakan kehidupan Khayalan begitu panjang terseret perasaan menuju gerbang kemarahan . Yang tiada tara lepas mereda adalah harapan kehidupakehidupan bebas dengan segala yang usai Lagi, jarak memanggil pulang mencari arah kehidupan demi ketentraman tanya yang tumbuh sebagai pohon abadi kesunyian. Sehilang arah ini khayalan membawa hidup diambang batas kenyataan Lagi; kesetian pada duk...
Komentar
Posting Komentar