Dua hal yang tidak boleh hilang dalam hidup; Kepercayaan dan Senyuman—Kepercayaan! Semua hanya persoalan masa; masa dimana kita tidak lagi kecewa pada diri kita sendiri, masa dimana kita tidak lagi bermimpi; sebab sudah mencapainya, masa dimana sesuatu yang terasa berat akan kita tertawakan, masa dimana kita tidak perlu lagi resah; hanya karna kita sadar hidup ini hanya untuk dinikmati, masa dimana kita tidak perlu lagi menginginkan jadi orang lain; sebab sudah tercukupi oleh diri sendiri. Dan pun senyuman; yang melahirkan keindahan dan kekuatan saat semua berusaha menghancurkan. Hanya karna kau gagal; bukan berarti harus berhenti belajar. Indonesia pun menemukan dirinya butuh waktu 350 tahun dijajah dan dijarah—sebelum akhirnya; ia percayaa pada dirinya dan tersenyum pada ibu pertiwinya. Ikhtiar dan belajar kunci hidup~
Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...

Komentar
Posting Komentar