Aku menjelma bulan—di waktu siang milik matahari. Redup dan remang; saat semua terasa bersinar. Ketanpaan dan ketiadaan malam adalah ketidak berartian bagi keindahan bulan. Di kejauhan sana—ada sesuatu harapan demi harapan bagi bulan; malam akan datang—bersama bintang kuhiasi malam. Tujuan hidupku hari ini; aku membiarkan harapan demi harapan— tumbuh dan terjawab; tak usah resah dan gundah—sebab gelap masi saja milik malam bahkan Tuhan pun menikmatinya.
Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...
Komentar
Posting Komentar