Langsung ke konten utama

KAJIAN BULANAN MAJLIS TAKLIM NAILUL AUTOR BERSAMA PROF. ACHMAD MUBAROK, MA


Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos

Alhamdulillah hari ini terlaksana dengan lancar pengajian bulanan Majlis Taklim Nailul Autor, dengan tema “ Membangun hati untuk selalu menerima kenyataan hidup di akhir zaman”. Unsur jiwa terbagi pada lima unsur bagian, 1. Akal, 2. Hati, 3. Hati nurani, 4. Nafsu, dan 5. Syahwat, sistem jiwa manusia didukung oleh 5 sub sistem tersebut yang saling berhubungan. Secara definisi hati berarti bolak balik, menurut Prof. Achmad Mubarok, MA sifatnya hati tidak konsisten yang didasari pada keinginan, kemauan, perasaan dan lain-lain. secara bathiniah ada juga yang bernama hati nurani atau bashiroh yaitu cahaya hati yang terpancar pada Illahiah, yang sifatnya konsisten. Hati nurani bisa tertutup dari pada dua bagian yaitu dengan perbuatan dosa dan keserakahan. Orang yang nuraninya terang akan senantiasa merasa bahagia atau senang dan tenang, adapun orang yang hati nuraninya tertutup akan selalu melakukan kejahatan. Semisal orang yang serakah akan senantiasa tidak merasa cukup meski kehidupannya sudah terpenuhi dengan segalanya. Hati adalah sub sistem dari sistem jiwa. Bagian yang kedua adalah otak dan akal, otak yaitu suatu alat untuk berpikir, adapun akal adalah energi untuk berpikir, menurut Prof, Achamad Mubarok, MA. Otak dan Akal diibaratkan seperti mesin motor dan bahan bakarnya, akal tidak berwujud adapun otak adalah bagian dari panca indra. Bagian ketiga adalah syahwat dan hawa nafsu, dalam Al-Qur’an nafsu disebut dengan kata Hawa yang berarti dorongan kepada hal-hal yang rendah, adapun syahwat adalah dorongan suatu yang diinginkan sesuai kadarnya, sifatnya diperbolehkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...

“Di Hadapan Malam”

Aku adalah sebuah kehinaan yang mesti direnungkan Gelap pekatmu menyimpan cahaya yang tak bisa di tatap oleh mata-mata jahat Sunyi dan sepimu mencerminkan bahwa aku harus menangis tanpa air mata Anginmu sepoi, sesepoi usapan ibuku Namun tak kuasa meredahkan tangisku tanpa air mata Kejahatan-kejahatan yang kau punya hanya untuk menghukum diriku Kesucian-kesucian yang kau miliki hanya menjadikanku kehinaan yang tak pernah menyerah Di hadapan malam Aku adalah kebisuan tak bersuara Diamku tak punya air mata Tangisku sesak dalam dada