Langsung ke konten utama

"Di Suatu Minggu Nanti"

02:00 WIB aku aku akan menjadi speker rusak yang mengganggu telinga dan tidurmu, kala langit masih begitu kelam, sepi, sunyi, dan dingin. ketika engkau bangun dengan sisa-sisa ilermu dan mimpi-mimpi indahmu, lalu engkau tersenyum sambil berceriwis "Aku masih ngantuk sayang". 
Dengan keindahan senyum yang kau punya, aku sedikit bisu dan tuli, lalu aku terkagum-kagum melihat hal yang kau punya itu, sambil berkata: "Tuhan sedang mengajak kita bercumbu sayang, aku takut engkau cemburu jika aku saja yang bercumbu". sedikit senyum kau tampakan, sedikit khawatir engkau berjalan menuju kamar mandi. saat-saat tiba dikamar mandi engkau berteriak dengan nada manja "sayng dingin". Lalu aku menghampirimu dengan sisa-sisa senyum yang aku punya, dengan kata yang menjadi suara kulontarkan dengan nada manja ketelinga cantikmu "tenang sayang, Tuhan sudah menyiapkan selimut terhangat untuk kita berdua", lantas engkau pun terburu-buru mengaliri air dari mulai wajah sampai kaki, yang padahal membuatku cemburu "semudah itu air menyentuh tubuhnya" kata hatiku.
ketika engakau usai bertengkar dengan air yang membuatmu berkata "Dingin, dingin dan dingin" engkau bergegas menghampiriku sambil tersenyum dan ingin meminta aku mencium, lalu engkau buka bajumu dengan sisa-sisa kerak ilermu, yang akan kau ganti dengan pakaian bernama mukena. "Tuhanku, engkau ciptakan dia dengan sempurna mata yang aku punya, aku sayang dia Tuhan" kata hatiku.
seusai dia menyelesaikan berpakaiannya sambil berjalan menuju belakangku, dia berkata: "Sayang, aku sudah siap". Kuhampiri dia, kucium keningnya dan terucap pula kata dari mulutku "Aku ingin setia selamanya denganmu didunia dan diakhirat sayang". tetes demi tetes air mata mengalir dipipnya, air mata haru dan kata melulu "Aku juga Sayang". "Bisa kita mulai sayang, Tuhan sudah menunggu" kataku. "Bisa sayang" katamu.

lalu kita terbelenggu oleh rindu, kita satu dan menunggu. Malam itu, Tuhan tersenyum dan menyeru dengan firman-Nya "wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SASTRA DAN KEMANUSIAAN

Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...

Hilang Arah

Langit tak pernah tanggal dari sepasang mata dan kesedihan Hujan dan awan kisah jernih tunas hijau bagi burung bersarang Kau gagal mematahkan hati seorang petualang dan gudang pertanyaan Sunyi menjadi pohon rimbun tempat langkah mencari arah Jangan percaya pada sebuah kehilangan—sebelum kau menyelam kepada kenyataan . Segala yang tiada, sinar cahaya menjadi gelap gemerlap melebur kenyataan Menjadi sungai deras di alam kepala. Seperti seorang wartawan yang memburu kasus besar Berharap dapat mengungkapkan bagi kemanfaatan keingin tahuan orang-orang  Lagi, dada menjadi laut saat segala gelap dikatakan kehidupan  Khayalan begitu panjang terseret perasaan menuju gerbang kemarahan . Yang tiada tara lepas mereda adalah harapan kehidupakehidupan bebas dengan segala yang usai Lagi, jarak memanggil pulang mencari arah kehidupan demi ketentraman tanya yang tumbuh sebagai pohon abadi kesunyian.  Sehilang arah ini khayalan membawa hidup diambang batas kenyataan Lagi; kesetian pada duk...

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...