Langsung ke konten utama

“Di Hadapan Malam”

Aku adalah sebuah kehinaan yang mesti direnungkan
Gelap pekatmu menyimpan cahaya yang tak bisa di tatap oleh mata-mata jahat
Sunyi dan sepimu mencerminkan bahwa aku harus menangis tanpa air mata
Anginmu sepoi, sesepoi usapan ibuku
Namun tak kuasa meredahkan tangisku tanpa air mata

Kejahatan-kejahatan yang kau punya
hanya untuk menghukum diriku
Kesucian-kesucian yang kau miliki
hanya menjadikanku kehinaan yang tak pernah menyerah

Di hadapan malam
Aku adalah kebisuan tak bersuara
Diamku tak punya air mata

Tangisku sesak dalam dada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...