Langsung ke konten utama

Cahaya Baru Dari Utara Kp. Ujung Harapan

Alkisah, sekitar pada tahun lampau, berkata kami punya al alim al ulama warosatul ambiya almaghfurllah wal mujahid fi sabilillah, bahwasanya nanti akan ada Al Azhar Ujung Harapan.
Dikisahkan dalam sejarah perkampungan dahulu kala suatu kampung Al-Ma’mur memiliki beberapa julukan, dari kampung terompet, kampung bombay, hingga kampung banjir, yang konotasinya seakan-akan selalu mendapat hal yang buruk, seorang pecair bernama Chairil Anwar dalam sajaknya menulis kalimat yang menarik “Ada yang berubah, ada yang bertahan, karna zaman sulit dilawan. Tapi kepercayaan harus diperjuangkan” sebagaimana dalam pembukaan tulisan ini, bahwasanya akan ada Al Azhar Ujung Harapan, kini seakan hal tersebut menjadi kenyataan setelah ada salah satu bangunan ditengah-tengah sawah bernama lembaga “PUSIBA” Bentuk kata akronim dari “Pusat Studi Bahasa Arab” yang kurikulumnya menjadi tempat kursus bahasa sebagai salah satu standar agar mendapat beasiswa di Universitas Al Azhar.

Lain zaman lain cerita, lain cahaya lain sumbernya. Alhamdulillah atas izin Allah swt pada tanggal 23-24 April 2022 saya telah mengikuti salah satu program kegiatan yang diadakan oleh “PUSIBA OIAA” acara yang bertema “DAUROH ILMIAH RAMADHAN BERKAH” acara ini berpusat pada kajian Ilmiah keagamaan yang secara kesaharian menjadi problem di Negri ini yaitu Kajian Ilmiah tentang tafsir Al-Qur’an pemateri Dr. Muclish M Hanafi, MA. Kajian ilmiah tentang Fiqih Mazhab Imam Syafii pemateri KH. Abidullah Abdullah, Kajian Ilmiah tentang aliran-aliran pemikiran Aqidah pemateri KH. Irfan Mas’ud, MA, kajian Ilmiah tentang Ilmu Falak pemateri Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, M.Sc, kajian ilmiah tetang Ilmu Qiroaat pemateri Syaikh Abdul Aziz Mahmud Zeid, Kajian tentang Umul Qur’an pemateri Dr. Muclish M Hanafi, MA. Meski acara ini singkat tapi berkesan mendalam bagi saya:

—Seakan saya sebagai orang awam berada di Universitas Al Azhar sebab universitas identik dengan  kajian Ilmiah meski standar Ilmiah saat ini masi berkiblat pada barat.
—Acara seperti ini bisa dibilang sebagai dakwah yang sifatnya kultural dikarnakan segala pemikiran dan keraguan akan dijawab secara ilmiah tidak hanya secara batiniah yang menghasilkan Islam Rahmatan Lil Alamin yang terbuka dalam menyelesaikan persoalaan keagamaan sesuai refrensi Ilmu pengetahuan.
—Memiliki teman baru dari sudut pandang yang berbeda dalam tujuan yang sama yaitu mendalamkan pengetahuan seputar keagamaan.
—Lebih mengenal Islam sebagai Agama perdamaian bukan Islam ekstrimisme
—Menemukan ulama-ulama moderat yang memberikan cahaya baru dalam harapan

Pesannya: 
—Semoga Acara Ini akan berlanjut dikemudian hari dan lebih leluasa waktunya 

I’m All Finee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...

“Di Hadapan Malam”

Aku adalah sebuah kehinaan yang mesti direnungkan Gelap pekatmu menyimpan cahaya yang tak bisa di tatap oleh mata-mata jahat Sunyi dan sepimu mencerminkan bahwa aku harus menangis tanpa air mata Anginmu sepoi, sesepoi usapan ibuku Namun tak kuasa meredahkan tangisku tanpa air mata Kejahatan-kejahatan yang kau punya hanya untuk menghukum diriku Kesucian-kesucian yang kau miliki hanya menjadikanku kehinaan yang tak pernah menyerah Di hadapan malam Aku adalah kebisuan tak bersuara Diamku tak punya air mata Tangisku sesak dalam dada