Langsung ke konten utama

KH Noer Ali Manusia Ulul al-Albab Asal Bekasi

Biografi KH. Noer Ali | Profil Ulama › Laduni - Layanan Digital untuk Negeri


Oleh: Alfin Hasanul Kamil


KH Noer Ali adalah sosok pahlawan nasional asal Bekasi yang sekaligus juga seorang ulama karismatik. Ketokohannya sudah tidak diragukan lagi. Baik para ulama maupun umara mengakuinya. Kedudukannya di masyarakat dipandang mulia. Ia menjadikan kampungnya menjadi kampung santri. Ia mendirikan lembaga pendidikan yang dikenal luas di Bekasi dan sekitarnya. Sebelumnya ia juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan politisi Muslim yang karismatis. Tak sekadar itu, ia pun layak masuk ke dalam ulu al-bab. alfin hasanul kamil (@alfinhasanul) | Twitter



Pengertian

Alquran menggunakan beberapa istilah untuk menyebut kaum cerdik pandai. Selain kata ‘ulama dan kata ‘alimun, dipergunakan pula kata ulu al-bab. Alquran justru lebih sering menyebut ulul albab dibanding ‘ulama. Kata ‘ulama disebut dua kali, sedangkan kata ulul albab diulang 16 kali. Bahkan kata ‘ulama dalam Alquran penggunaannya lebih ditujukan kepada orang-orang yang menguasai teks-teks suci yang bersifat universal, misalnya para pemuka Yahudi, karena penguasaannya terhadap kitab Taurat, yang digambarkan dalam Alquran sebagai berikut:

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’ara: 197)

Kata Ulu al-Albab ditujukan pada orang-orang yang lazim dikenal sebagai intelektual dan cendekiawan bersifat khusus. Menurut Alquran terjemahan Depag RI, ulul albab berasal dari kata lubb yang secara harfiah dapat diartikan sebagai akal atau saripati sesuatu  dan akal merupakan saripati atau anugerah yang paling berharga bagi manusia.

Dalam sebuah tafsir al-Mufradat fi Gharab al-Qur’an karya Abi al-Qasim al-Isfahani, disebutkan kata Lubb memiliki makna bukan sekadar akal biasa, tetapi akal cerdas yang istimewa bersih dan terhindar dari kerancuan. Hal ini berarti ulu al-albab adalah orang-orang yang karena kecerdasaan dan ketajaman pikirannya, mereka dapat memahami hakikat dan makna segala sesuatu.

Menarik sebuah kesimpulan dari definisi di atas, sebagai penjelas dalam Alquran, ulu al-albab adalah orang-orang khusus yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT dan diberi kebajikan (hikmah). Allah berfirman:

“Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebajikan yang banyak. Dan ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul al-bab.” (QS. Al-Baqarah: 269)


Karakteristik

Ulu al-Albab, menurut Alquran, memiliki beberapa karakteristik. Di antaranya disebutkan, mereka adalah orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan dengan tekun dan sungguh-sungguh, (QS. Ali Imran: 7), dapat membedakan yang baik dari yang buruk, (QS. Al-Maidah: 100), bersikap kritis, serta menggunakan ilmu dan pengetahuannya untuk memperbaiki dan membantu kepentingan umat.

Perhatikan ayat-ayat ini:

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Al-Zumar: 18)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (QS. Ar-Ra’d: 19).

Dua ayat Alquran di atas berisi gambaran tentang karakteristik yang secara umum dimiliki oleh seorang intelektual, cendekiawan, atau ilmuan. Dalam hal ini, ulu al-albab tidak berbeda dengan cendekiawan, intelektual, atau ilmuan pada umumnya. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa ulu al-albab senantiasa istiqamah mencari rida Allah SWT dengan menjalankan syariat dan sunah Nabi Muhammad SAW, seperti mendirikan salat, menunaikan zakat, dan rajin bangun malam untuk bermunajat kepada Allah SWT.


KH Noer Ali dan Ulul Albab

Pada akhir tahun 2019 sebuah talkshow diselenggarakan oleh alumni Attaqwa tahun 2010 (Al-Atqia) edisi Silatnas IKAA 2020, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. Acara tersebut mengangkat tema besar “Sisi lain KH Noer Ali”. Acara ini dihadiri oleh para alumni yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Abiturien Attaqwa.

Salah satu pemateri acara tersebut adalah KH M. Amin Noer, MA yang merupakan salah satu putra dari KH Noer Ali. Ia menceritakan keahlian-keahlian KH Noer Ali dalam berbagai bidang. Menurutnya, selain bidang agama, KH Noer Ali juga ahli dalam bidang lainnya. Di antaranya bidang politik, pendidikan, militer, negara, ekonomi, dan lain-lain. Hal ini mencerminkan bahwa KH Noer Ali tidak bisa dikatakan sebagai ulama saja, melainkan beliau termasuk kepada karakteristik seorang Ulu al-Albab yang kuat. 

Allah berfirman:

(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Qs. Az-Zumar:9)

Ayat tersebut mengandung makna bahwa ulu al-albab bukan hanya cendekiawan, intelektual, atau ilmuan biasa, tetapi cendekiawan, intelektual, atau ilmuan yang dalam dirinya menyatu dan berpadu antara iman dan taqwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Ulu al-Albab, dengan begitu, dapat pula disebut sebagai profil ideal KH. Noer Ali, cendekiawan Muslim pada masanya.


DAFTAR PUSTAKA


Chanel Youtube Al-Atqia 2010 “Talkshow Hari Pahlawan Sisi Lain KH. Noer Alie” ( Tgl Uploud: 23 November 2019)


Ismail, A. Ilyas, True Islam (Moral, Intelektual, Spiritual), Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media, 2013. Hal: 235




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SASTRA DAN KEMANUSIAAN

Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...

Hilang Arah

Langit tak pernah tanggal dari sepasang mata dan kesedihan Hujan dan awan kisah jernih tunas hijau bagi burung bersarang Kau gagal mematahkan hati seorang petualang dan gudang pertanyaan Sunyi menjadi pohon rimbun tempat langkah mencari arah Jangan percaya pada sebuah kehilangan—sebelum kau menyelam kepada kenyataan . Segala yang tiada, sinar cahaya menjadi gelap gemerlap melebur kenyataan Menjadi sungai deras di alam kepala. Seperti seorang wartawan yang memburu kasus besar Berharap dapat mengungkapkan bagi kemanfaatan keingin tahuan orang-orang  Lagi, dada menjadi laut saat segala gelap dikatakan kehidupan  Khayalan begitu panjang terseret perasaan menuju gerbang kemarahan . Yang tiada tara lepas mereda adalah harapan kehidupakehidupan bebas dengan segala yang usai Lagi, jarak memanggil pulang mencari arah kehidupan demi ketentraman tanya yang tumbuh sebagai pohon abadi kesunyian.  Sehilang arah ini khayalan membawa hidup diambang batas kenyataan Lagi; kesetian pada duk...

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...