Langsung ke konten utama

Jakarta Hujan Lagi

Kemarin, katanya

Siang hingga menjelang sore

Jakarta di guyur hujan

Sungai-sungai bersorak ria atas pesta

Sudah bulan delapan, ternyata

.

“Jakarta hujan lagi”, Keluh berita dari balik gawai

Seorang anggota pejabat Jakarta telah meninggal

Sebab jantungnya tanggal

Kerumunan warga bertanya-tanya; mendengar berita di telinga ketar ketir

“Sebab jakarta hujan lagi; kami selaku warga siap menjamu banjir di tahun akhir”

Dengan seribu janji dari Presiden RI hingga ke retorika manis, banjir siap diatasi

Keesokan hari “Janji tinggal lah janji, manis di hati Jakarta”

.

Alangkah baiknya Ibu kota pindah saja ke sebrang sana, ahai solusi.

Jakarta di tinggal pergi—Airnya surut kembali

Wajahnya tak lagi di caci—Sejarah hidup kembali.

Memuaskan hati kapitalisasi demi menghilangkan ibu pertiwi

.

Jakarta, Agustus 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...

“Di Hadapan Malam”

Aku adalah sebuah kehinaan yang mesti direnungkan Gelap pekatmu menyimpan cahaya yang tak bisa di tatap oleh mata-mata jahat Sunyi dan sepimu mencerminkan bahwa aku harus menangis tanpa air mata Anginmu sepoi, sesepoi usapan ibuku Namun tak kuasa meredahkan tangisku tanpa air mata Kejahatan-kejahatan yang kau punya hanya untuk menghukum diriku Kesucian-kesucian yang kau miliki hanya menjadikanku kehinaan yang tak pernah menyerah Di hadapan malam Aku adalah kebisuan tak bersuara Diamku tak punya air mata Tangisku sesak dalam dada