Langsung ke konten utama

Rumah Itu Bernama SASI

Alam adalah alasan kenapa aku memilih. Alam memberi segala, barang siapa dia mau bersama. Tak seperti di kota, yang selalu bertengkar dan berjahuan hanya karna berbeda pilihan politik semata, status sosial, dll. Tapi, Alam memberikan segala, persahabatan dan kekeluargaan, misalnya. Tujuan kita sama, yaitu menuju puncak untuk menikmati dan menemukan perihal rahasia yang di anugrahkan oleh Tuhan. Belajar bersama, Beribadah bersama, Pun Bergembira ceria bersama. Ada saatnya kita meski bersyukur dalam tafakur, berusaha mentadaburkan diri untuk bisa setia pada alam. Tujuan hidupku hari ini: aku ingin berumah dan bernaung di Sekola Alam Bekasi. Cintai Sekolahmu, seperti mana kau mencintai rumahmu, cintai rumahmu, sebagaimana kau mencintai dirimu, dan cintai dirimu seperti apa kau mencintai kekasihmu. Dan Rumah itu; Bernama SASI.
.
By: Introvert.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...

“Di Hadapan Malam”

Aku adalah sebuah kehinaan yang mesti direnungkan Gelap pekatmu menyimpan cahaya yang tak bisa di tatap oleh mata-mata jahat Sunyi dan sepimu mencerminkan bahwa aku harus menangis tanpa air mata Anginmu sepoi, sesepoi usapan ibuku Namun tak kuasa meredahkan tangisku tanpa air mata Kejahatan-kejahatan yang kau punya hanya untuk menghukum diriku Kesucian-kesucian yang kau miliki hanya menjadikanku kehinaan yang tak pernah menyerah Di hadapan malam Aku adalah kebisuan tak bersuara Diamku tak punya air mata Tangisku sesak dalam dada