Langsung ke konten utama

Rumah Itu Bernama SASI

Alam adalah alasan kenapa aku memilih. Alam memberi segala, barang siapa dia mau bersama. Tak seperti di kota, yang selalu bertengkar dan berjahuan hanya karna berbeda pilihan politik semata, status sosial, dll. Tapi, Alam memberikan segala, persahabatan dan kekeluargaan, misalnya. Tujuan kita sama, yaitu menuju puncak untuk menikmati dan menemukan perihal rahasia yang di anugrahkan oleh Tuhan. Belajar bersama, Beribadah bersama, Pun Bergembira ceria bersama. Ada saatnya kita meski bersyukur dalam tafakur, berusaha mentadaburkan diri untuk bisa setia pada alam. Tujuan hidupku hari ini: aku ingin berumah dan bernaung di Sekola Alam Bekasi. Cintai Sekolahmu, seperti mana kau mencintai rumahmu, cintai rumahmu, sebagaimana kau mencintai dirimu, dan cintai dirimu seperti apa kau mencintai kekasihmu. Dan Rumah itu; Bernama SASI.
.
By: Introvert.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hilang Arah

Langit tak pernah tanggal dari sepasang mata dan kesedihan Hujan dan awan kisah jernih tunas hijau bagi burung bersarang Kau gagal mematahkan hati seorang petualang dan gudang pertanyaan Sunyi menjadi pohon rimbun tempat langkah mencari arah Jangan percaya pada sebuah kehilangan—sebelum kau menyelam kepada kenyataan . Segala yang tiada, sinar cahaya menjadi gelap gemerlap melebur kenyataan Menjadi sungai deras di alam kepala. Seperti seorang wartawan yang memburu kasus besar Berharap dapat mengungkapkan bagi kemanfaatan keingin tahuan orang-orang  Lagi, dada menjadi laut saat segala gelap dikatakan kehidupan  Khayalan begitu panjang terseret perasaan menuju gerbang kemarahan . Yang tiada tara lepas mereda adalah harapan kehidupakehidupan bebas dengan segala yang usai Lagi, jarak memanggil pulang mencari arah kehidupan demi ketentraman tanya yang tumbuh sebagai pohon abadi kesunyian.  Sehilang arah ini khayalan membawa hidup diambang batas kenyataan Lagi; kesetian pada duk...

"Maaf Tuhan, Aku Sibuk"

Aku mencari-Mu Dalam dunia filsafat Dan aku tersesat . Aku mencari-Mu Dalam dunia syariat Dan aku tidak melihat . Aku mencari-Mu Dalam dunia hakikat Dan aku di hukum para malaikat . Aku mencari-Mu Dalam alam cinta Dan aku menjadi orang paling terluka . Dan ketika aku tidak mencari-Mu Aku menjadi orang yang tidak hidup . Bahwa jalan-Mu adalah jalan mereka yang menjadi Aku Aku rindu itu ~ . (Bekasi, 18 Desember 2018).

SASTRA DAN KEMANUSIAAN

Oleh: Alfin Hasanul Kamil, S.Sos. Sudah sejak berabad lamanya karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, yang di tulis banyak pengarang besar dunia, seperti Jalaluddin Rumi, Nizam Al-Ganzavi, Albert Camus, Haruki Murakami, dan pengarang besar lainnya. Di Indonesia sendiri dapat kita jumpai pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Aan Mansyur, Ws Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Adji Darma, dan lain-lain. Para pengarang tersebut bukan semata-mata ditulis karya sastra sebuah keindahan atau penghibur bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga kemanusian pada zamannya. Karya-karya mereka boleh fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya. Menurut A Teew manusia di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo lequens, juga menjadi homo fabulans yaitu sebagai makhluk bercerita atau bersastra. Begitu manusia belajar bahasa sebagai...