Langsung ke konten utama

Sewaktu Dini Hari


01:51 WIB 


Di kepala dan dada—kata benda memilih lebih banyak menjadi kata kerja; apa aku telah berdusta—melawan takdir atau nasib yang terlanjur terukir. Bosan; semestinya, tidak harus hari selalu menjadi Desember dan tak akan mekar mawar di bulan hujan. Semestinya. Aku membatas; agar bulan tak redup cahaya di saat malam—nyatanya cahaya adalah satu-satunya hal bersinar di saat malam. Kau tahu kisah saat kau memilih menjadi seorang perempuan dengan rahasia—malam selalu membangunkan dan kepala; dada terasa sesak oleh kerinduan. Aku tak bisa lepas pada garis nasib dan takdir. Coba buka pintu hatimu; akan aku buktikan sebagaimana doa mengikat kesetiaan dan lebih menolak perpisahan. Bayangkan setiap hari tubuh disetubuhi rindu agar tak menjadi semu dalam harimu. Kau masi tak percaya pada kejujuran—kau satu-satunya pilihan dalam kehidupan. Atau kau sudah menginginkan untuk pemakaman dalam kehidupan? Yang barangkali; kau juga kesulitan dalam meyakinkan. Mari kita saksikan dalam kenyataan; yang tidak lagi kita bungkus oleh puisi yang membelenggu harapan; yang lebih memilih bertahan. Sebab satu-satunya jalan adalah Tuhan dengan segala kesaksian.

Sewaktu Dini Hari
Bekasi, Desember 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hilang Arah

Langit tak pernah tanggal dari sepasang mata dan kesedihan Hujan dan awan kisah jernih tunas hijau bagi burung bersarang Kau gagal mematahkan hati seorang petualang dan gudang pertanyaan Sunyi menjadi pohon rimbun tempat langkah mencari arah Jangan percaya pada sebuah kehilangan—sebelum kau menyelam kepada kenyataan . Segala yang tiada, sinar cahaya menjadi gelap gemerlap melebur kenyataan Menjadi sungai deras di alam kepala. Seperti seorang wartawan yang memburu kasus besar Berharap dapat mengungkapkan bagi kemanfaatan keingin tahuan orang-orang  Lagi, dada menjadi laut saat segala gelap dikatakan kehidupan  Khayalan begitu panjang terseret perasaan menuju gerbang kemarahan . Yang tiada tara lepas mereda adalah harapan kehidupakehidupan bebas dengan segala yang usai Lagi, jarak memanggil pulang mencari arah kehidupan demi ketentraman tanya yang tumbuh sebagai pohon abadi kesunyian.  Sehilang arah ini khayalan membawa hidup diambang batas kenyataan Lagi; kesetian pada duk...

Cahaya Itu Pernah Menyinari

Sekitar pada tahun 1986 dalam rangka acara ratib atau walimatussafar doa sebelum keberangkatan ibadah haji. Tiga orang itu duduk dihadapan para jama’ah yang berkenan hadir untuk mendoakan calon jama’ah haji. Ketiga orang itu adalah Almaghfurllah KH. Noer Alie (posisi tengah), Ustdz H. Marzuki (Lurah Bahagia posisi kanan) dan ustdz H Mahbub (Sekertaris Almaghfurllah KH Noer Alie, posisi kiri). Hal ini mencerminkan pada nilai dakwah kultural.  Menurut Sulthon (hal 26:2003) dalam bukunya Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Bentuk strategi penanaman nilai-nilai Agama terhadap kebudayaan, bukan mencampurkan adukan Agama dan Kebudayaan. Almaghfurllah KH Noer Alie salah satu ulama karismatik yang melakukan jalan dakwah kultural. Dalam hal ini penulis teringat pada pendapat Dr. Choliq Aly Ma'mur, MA yang mengatakan bahwa dakwah itu menjadi contoh bukan sekedar memberikan contoh. Maksud dari perkataan tersebut adalah kata dakwah tid...

"Maaf Tuhan, Aku Sibuk"

Aku mencari-Mu Dalam dunia filsafat Dan aku tersesat . Aku mencari-Mu Dalam dunia syariat Dan aku tidak melihat . Aku mencari-Mu Dalam dunia hakikat Dan aku di hukum para malaikat . Aku mencari-Mu Dalam alam cinta Dan aku menjadi orang paling terluka . Dan ketika aku tidak mencari-Mu Aku menjadi orang yang tidak hidup . Bahwa jalan-Mu adalah jalan mereka yang menjadi Aku Aku rindu itu ~ . (Bekasi, 18 Desember 2018).